Jakarta, 13 Mei 2026 – Meningkatnya perhatian masyarakat terhadap penyakit yang berasal dari tikus membuat dua nama penyakit kembali banyak dibicarakan, yaitu hantavirus dan leptospirosis. Keduanya sama-sama berkaitan dengan hewan pengerat dan dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius, namun memiliki penyebab, cara penularan, hingga dampak yang berbeda. Karena gejalanya pada tahap awal sering mirip penyakit biasa, masyarakat diimbau memahami perbedaan keduanya agar lebih waspada dan tidak salah mengenali risiko kesehatan.
Hantavirus merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari kelompok hantavirus yang umumnya dibawa oleh tikus liar. Penularan biasanya terjadi ketika manusia menghirup partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering dan tercampur di udara. Seseorang bisa terpapar saat membersihkan gudang, rumah kosong, atau area lembap yang menjadi sarang tikus tanpa perlindungan yang memadai.
Sementara itu, leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang juga berasal dari urine tikus dan hewan lain. Berbeda dengan hantavirus yang lebih sering menular lewat udara, leptospirosis biasanya menyebar melalui kontak langsung dengan air, tanah, atau lumpur yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri. Penyakit ini lebih sering muncul setelah banjir karena air yang tercemar dapat masuk ke tubuh melalui luka kecil di kulit atau selaput lendir.
Gejala awal kedua penyakit memang sama-sama dapat berupa demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas. Namun hantavirus lebih sering berkembang menjadi gangguan serius pada sistem pernapasan, sedangkan leptospirosis cenderung menyerang organ seperti hati dan ginjal. Pada kasus berat, leptospirosis dapat menyebabkan gagal ginjal, kerusakan hati, hingga perdarahan apabila tidak segera ditangani.
Pengamat kesehatan masyarakat menilai masyarakat sering menganggap tikus hanya sebagai gangguan rumah tangga biasa, padahal hewan pengerat tersebut dapat menjadi sumber berbagai penyakit berbahaya. Lingkungan yang kotor, saluran air buruk, tumpukan sampah, serta kondisi pascabanjir menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko penyebaran penyakit dari tikus di wilayah permukiman padat penduduk.
Musim hujan dan banjir menjadi periode yang paling diwaspadai untuk kasus leptospirosis karena bakteri lebih mudah menyebar melalui genangan air. Sementara hantavirus lebih sering dikaitkan dengan lingkungan tertutup yang lama tidak dibersihkan dan memiliki banyak aktivitas tikus. Karena itu, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar menjadi langkah penting dalam mencegah kedua penyakit tersebut.
Kementerian kesehatan dan tenaga medis juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan alat pelindung saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus. Penggunaan sarung tangan, masker, dan cairan disinfektan dinilai penting untuk mengurangi risiko paparan virus maupun bakteri. Selain itu, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi atau gejala mencurigakan setelah kontak dengan lingkungan yang berisiko.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan, edukasi mengenai hantavirus dan leptospirosis menjadi semakin penting. Banyak ahli menilai kesadaran masyarakat terhadap sanitasi lingkungan dan pengendalian populasi tikus masih perlu diperkuat agar risiko penyebaran penyakit dapat ditekan. Dengan kebersihan lingkungan yang baik dan kewaspadaan sejak dini, masyarakat diharapkan dapat lebih terlindungi dari ancaman penyakit yang berasal dari hewan pengerat tersebut.