Jakarta, 20 Oktober 2026 – Gunung Everest selama ini dikenal sebagai puncak tertinggi di dunia dengan ketinggian mencapai 8.848,86 meter di atas permukaan laut. Gunung yang berada di kawasan Pegunungan Himalaya tersebut menjadi simbol keagungan alam sekaligus salah satu tujuan pendakian paling menantang di dunia. Namun, muncul pertanyaan menarik mengenai kemungkinan adanya gunung yang pernah menjulang lebih tinggi daripada Everest pada masa lampau. Para ilmuwan menjelaskan bahwa permukaan Bumi terus mengalami perubahan akibat aktivitas tektonik, erosi, dan berbagai proses geologi selama jutaan hingga miliaran tahun. Kondisi tersebut membuka kemungkinan bahwa pegunungan purba pernah mencapai ketinggian luar biasa, meskipun bukti mengenai puncak yang melampaui Everest belum dapat dipastikan.
Dalam sejarah geologi Bumi, pembentukan pegunungan merupakan proses panjang yang melibatkan pergerakan lempeng tektonik. Ketika dua lempeng benua saling bertumbukan, lapisan batuan dapat terlipat, menebal, dan terdorong ke atas hingga membentuk rangkaian pegunungan besar. Proses inilah yang menyebabkan terbentuknya Pegunungan Himalaya akibat tumbukan antara Lempeng India dan Eurasia. Pergerakan tersebut dimulai puluhan juta tahun lalu dan masih berlangsung hingga sekarang. Akibatnya, sejumlah wilayah Himalaya terus mengalami pengangkatan tektonik meskipun pada saat bersamaan mengalami pengikisan oleh angin, air, es, dan perubahan cuaca. Interaksi antara pengangkatan dan erosi menjadi faktor penting dalam menentukan ketinggian sebuah gunung.
Para ahli geologi memperkirakan bahwa Bumi pernah memiliki sejumlah rangkaian pegunungan purba yang ukurannya sangat besar. Salah satu contohnya adalah pegunungan yang terbentuk dalam peristiwa orogeni Grenville sekitar 1,3 miliar hingga 1 miliar tahun lalu. Proses pembentukan pegunungan tersebut terjadi ketika sejumlah daratan purba bertumbukan dalam pembentukan superbenua Rodinia. Sisa-sisa batuan yang terbentuk akibat peristiwa tersebut masih dapat ditemukan di beberapa wilayah Amerika Utara dan kawasan lain. Meskipun pegunungan aslinya telah mengalami erosi selama waktu yang sangat panjang, struktur batuannya menunjukkan bahwa proses pembentukannya melibatkan tekanan tektonik yang sangat besar. Namun, menentukan ketinggian puncak pegunungan tersebut secara akurat hampir tidak mungkin dilakukan hanya berdasarkan batuan yang tersisa.
Selain pegunungan Grenville, para peneliti juga mempelajari kemungkinan keberadaan rangkaian pegunungan raksasa yang terbentuk sekitar dua miliar tahun lalu. Penelitian mengenai evolusi kerak Bumi menunjukkan bahwa pada periode tertentu pernah terjadi pembentukan pegunungan dengan panjang mencapai ribuan kilometer. Beberapa rangkaian pegunungan purba diperkirakan memiliki skala yang dapat dibandingkan dengan Himalaya modern. Para ilmuwan menggunakan komposisi mineral, tekanan pembentukan batuan, serta jejak metamorfisme untuk memperkirakan kondisi geologi pada masa tersebut. Akan tetapi, panjang rangkaian pegunungan tidak dapat langsung digunakan untuk menentukan ketinggian puncaknya. Oleh karena itu, klaim bahwa gunung purba tertentu pasti lebih tinggi daripada Everest masih memerlukan bukti ilmiah yang lebih kuat.
Secara teoritis, terdapat batas alami yang memengaruhi seberapa tinggi sebuah gunung dapat tumbuh di permukaan Bumi. Gravitasi menjadi salah satu faktor utama karena semakin tinggi gunung, semakin besar pula tekanan yang harus ditanggung batuan di bagian bawahnya. Jika tekanan tersebut terlalu besar, batuan dapat mengalami deformasi sehingga pertumbuhan vertikal pegunungan menjadi terbatas. Selain itu, erosi akibat hujan, sungai, gletser, dan longsoran terus mengikis material dari kawasan pegunungan. Pada wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi, proses pengangkatan dapat berlangsung bersamaan dengan pengikisan yang intensif. Keseimbangan antara kedua proses tersebut menentukan apakah sebuah pegunungan akan terus bertambah tinggi atau justru mengalami penurunan.
Pertanyaan mengenai gunung tertinggi juga bergantung pada metode pengukuran yang digunakan. Everest merupakan gunung tertinggi jika diukur berdasarkan ketinggian puncaknya dari permukaan laut. Namun, apabila pengukuran dilakukan dari dasar hingga puncak, Mauna Kea di Hawaii memiliki tinggi total lebih dari 10.000 meter karena sebagian besar tubuh gunung tersebut berada di bawah permukaan Samudra Pasifik. Sementara itu, Gunung Chimborazo di Ekuador memiliki puncak yang lebih jauh dari pusat Bumi dibandingkan Everest akibat bentuk Bumi yang menggembung di sekitar khatulistiwa. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa istilah gunung tertinggi dapat memiliki makna berbeda berdasarkan titik awal pengukuran. Karena itu, perbandingan ketinggian gunung purba dengan Everest perlu menggunakan metode yang sama agar menghasilkan kesimpulan yang tepat.
Tantangan terbesar dalam meneliti ketinggian pegunungan purba adalah hilangnya sebagian besar bentuk asli permukaan Bumi akibat proses geologi. Selama jutaan tahun, batuan di puncak gunung dapat terkikis dan terbawa menuju sungai, danau, maupun lautan. Sebagian material tersebut kemudian membentuk lapisan sedimen yang pada akhirnya dapat mengalami perubahan menjadi batuan baru. Aktivitas tektonik juga mampu mengubah posisi, kedalaman, serta struktur batuan yang sebelumnya berada di permukaan. Para ilmuwan memanfaatkan berbagai teknik, termasuk analisis isotop, mineral metamorf, dan rekonstruksi lempeng tektonik, untuk memahami sejarah pembentukan pegunungan. Meskipun metode tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi geologi masa lampau, ketinggian puncak gunung yang telah lenyap tetap sulit ditentukan secara pasti.
Berdasarkan pengetahuan geologi saat ini, kemungkinan Bumi pernah memiliki gunung yang lebih tinggi daripada Everest tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan. Namun, belum terdapat bukti yang cukup kuat untuk memastikan keberadaan gunung purba tertentu dengan ketinggian melampaui 8.848,86 meter di atas permukaan laut. Pegunungan besar yang pernah terbentuk dalam sejarah Bumi menunjukkan bahwa planet ini mengalami perubahan bentang alam secara terus-menerus. Everest sendiri merupakan hasil proses tektonik panjang yang masih berlangsung hingga masa sekarang. Penelitian terhadap batuan purba di berbagai benua terus memberikan informasi baru mengenai sejarah pembentukan dan penghancuran pegunungan. Dengan perkembangan teknologi geologi, para ilmuwan diharapkan dapat semakin memahami seberapa tinggi pegunungan masa lampau pernah menjulang di permukaan Bumi.