Jakarta, 5 September 2026 – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap gangguan kesehatan jiwa tidak hanya menjadi persoalan pada kelompok dewasa dan lanjut usia, tetapi juga semakin banyak ditemukan pada anak usia sekolah dan remaja. Berdasarkan hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga Juli 2026, sebanyak 34.961 anak dan remaja terdeteksi mengalami gejala depresi atau sekitar 1,08 persen dari kelompok yang telah menjalani pemeriksaan. Selain depresi, sebanyak 33.290 anak dan remaja atau sekitar 1,03 persen ditemukan mengalami gejala kecemasan. Angka tersebut menjadi perhatian karena secara persentase hasil skrining pada kelompok usia muda lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia. Pemerintah menilai temuan itu menunjukkan kesehatan jiwa harus mendapatkan perhatian sejak usia sekolah dan tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan orang dewasa. Deteksi lebih awal diharapkan dapat mencegah gangguan berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan data CKG menunjukkan persoalan kesehatan jiwa terdapat pada berbagai kelompok usia dengan karakteristik yang berbeda. Pada kelompok dewasa dan lansia, hingga Juli 2026 ditemukan sebanyak 186.629 orang atau sekitar 0,66 persen mengalami gejala depresi. Sementara itu, sebanyak 157.434 orang atau sekitar 0,56 persen terdeteksi mengalami gejala kecemasan. Jika dibandingkan berdasarkan persentase, temuan gejala depresi pada anak dan remaja mencapai 1,08 persen, lebih tinggi dibandingkan angka 0,66 persen pada kelompok dewasa dan lansia. Begitu pula gejala kecemasan yang tercatat 1,03 persen pada kelompok anak dan remaja dibandingkan 0,56 persen pada kelompok usia yang lebih tua. Perbedaan tersebut menunjukkan kelompok usia muda membutuhkan perhatian khusus dalam kebijakan kesehatan jiwa nasional.
Temuan CKG tersebut disampaikan Dante dalam kegiatan temu media di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, Jumat, 4 September 2026. Menurutnya, angka yang berhasil teridentifikasi melalui program pemeriksaan kesehatan masih belum menggambarkan keseluruhan persoalan yang terdapat di masyarakat. Gangguan kesehatan jiwa dapat menyerupai fenomena gunung es karena sebagian orang tidak menyadari kondisi yang dialaminya atau tidak mencari pertolongan. Faktor stigma juga dapat membuat seseorang memilih menyembunyikan masalah psikologis yang sedang dihadapi. Pada anak dan remaja, kondisi tersebut menjadi lebih kompleks karena mereka belum tentu mampu mengenali maupun menjelaskan perubahan emosi yang dialaminya. Karena itu, keterlibatan keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan sangat diperlukan dalam proses deteksi dini.
Kemenkes sebelumnya juga menemukan indikasi persoalan kesehatan jiwa anak dalam skala besar melalui pelaksanaan CKG sepanjang 2025 hingga 2026. Dari sekitar tujuh juta anak yang telah menjalani skrining pada tahap sebelumnya, sekitar 4,4 persen atau kurang lebih 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, sementara sekitar 4,8 persen atau 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi. Perbedaan angka dengan data CKG hingga Juli 2026 berkaitan dengan kelompok pemeriksaan, periode pengumpulan data, serta kategori hasil skrining yang digunakan dalam pelaporan. Pemerintah karena itu menggunakan hasil pemeriksaan sebagai instrumen deteksi awal dan bukan sebagai diagnosis klinis secara otomatis. Anak yang menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa membutuhkan pemeriksaan lanjutan oleh tenaga profesional untuk memastikan kondisinya. Pendekatan tersebut penting agar intervensi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.
Data kesehatan nasional juga memperlihatkan kelompok usia muda mempunyai kerentanan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi depresi nasional sekitar 1,4 persen, sementara kelompok usia 15 hingga 24 tahun mempunyai prevalensi tertinggi sekitar 2 persen. Survei tersebut menggunakan instrumen Mini International Neuropsychiatric Interview untuk melakukan penilaian terhadap kondisi depresi. Pada kelompok anak muda yang mengalami depresi, hanya sebagian kecil yang tercatat mencari pengobatan atau pertolongan profesional. Situasi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara jumlah orang yang mengalami masalah dengan mereka yang mendapatkan layanan. Pemerintah kemudian memperluas pendekatan deteksi dini melalui berbagai program agar masalah psikologis dapat diketahui sebelum menimbulkan konsekuensi yang lebih berat.
Dante menjelaskan depresi dan kecemasan mempunyai karakteristik yang berbeda meskipun keduanya dapat muncul secara bersamaan. Depresi antara lain dapat ditandai dengan penurunan suasana hati, kehilangan energi, perubahan pola tidur, berkurangnya minat terhadap aktivitas, hingga munculnya perasaan tidak berharga. Sementara gangguan kecemasan dapat terlihat dari rasa khawatir yang berlebihan dan berlangsung terus-menerus sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Perubahan fisik juga dapat menjadi sinyal awal, termasuk gangguan tidur, tubuh terasa lemas secara berulang, serta perubahan berat badan akibat pola makan yang berubah. Pada anak dan remaja, perubahan perilaku di sekolah maupun lingkungan keluarga juga perlu diperhatikan. Namun munculnya satu gejala tidak dengan sendirinya memastikan seseorang mengalami gangguan tertentu sehingga pemeriksaan profesional tetap diperlukan.
Lingkungan keluarga dan sekolah mempunyai posisi penting karena anak serta remaja menghabiskan sebagian besar waktunya di dua lingkungan tersebut. Tekanan akademik, hubungan dengan teman sebaya, perundungan, persoalan keluarga, penggunaan media sosial, maupun berbagai perubahan dalam kehidupan dapat memengaruhi kondisi psikologis. Pemerintah mendorong orang tua dan guru meningkatkan kemampuan mengenali perubahan perilaku tanpa langsung memberikan penilaian negatif terhadap anak. Komunikasi yang terbuka dapat membantu anak menyampaikan masalah sebelum tekanan yang dialaminya berkembang semakin berat. Sekolah juga didorong memperkuat peran guru Bimbingan Konseling dan guru kelas dalam memberikan pendampingan awal kepada siswa. Apabila ditemukan indikasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, anak dapat diarahkan menuju fasilitas pelayanan kesehatan.
Kemenkes juga mengembangkan pendekatan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis untuk meningkatkan kemampuan masyarakat sekolah dalam merespons persoalan kesehatan jiwa. Pendekatan tersebut tidak dimaksudkan menggantikan psikolog atau psikiater, tetapi memberikan kemampuan dasar untuk mendengarkan, mengenali tanda masalah, dan mengarahkan seseorang memperoleh bantuan yang tepat. Pemerintah menilai dukungan teman sebaya mempunyai peran penting karena remaja terkadang lebih dahulu menceritakan persoalannya kepada teman dibandingkan orang tua maupun guru. Literasi kesehatan jiwa karena itu perlu diperluas agar respons yang diberikan tidak memperburuk kondisi seseorang. Sikap menghakimi, meremehkan, maupun memberikan stigma justru dapat membuat orang yang mengalami masalah semakin enggan mencari bantuan. Lingkungan yang suportif menjadi salah satu unsur penting dalam upaya pencegahan.
Di tingkat pelayanan kesehatan, pemerintah berupaya memperkuat kapasitas Puskesmas untuk menindaklanjuti hasil skrining kesehatan jiwa. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah keterbatasan jumlah psikolog klinis yang tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Kemenkes sebelumnya mencatat jumlah psikolog klinis di Puskesmas masih sekitar 203 orang sehingga pemenuhan tenaga profesional terus didorong. Pemerintah juga mengembangkan sistem rujukan agar kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat memperoleh pelayanan dari fasilitas dan tenaga kesehatan yang sesuai. Selain layanan tatap muka, kanal dukungan krisis kesehatan jiwa juga disiapkan untuk memberikan akses bantuan ketika masyarakat membutuhkannya. Penguatan layanan tersebut menjadi semakin penting seiring bertambahnya jumlah masyarakat yang menjalani skrining kesehatan jiwa.
Kemenkes menilai besarnya temuan depresi dan kecemasan pada kelompok usia muda harus menjadi momentum untuk mengubah cara masyarakat memandang kesehatan jiwa. Persoalan psikologis perlu ditempatkan setara dengan masalah kesehatan lainnya yang membutuhkan pencegahan, pemeriksaan, dan penanganan berdasarkan kondisi masing-masing individu. Orang tua diharapkan lebih peka terhadap perubahan pola tidur, nafsu makan, suasana hati, aktivitas sosial, prestasi sekolah, maupun perilaku anak yang berlangsung secara konsisten. Sekolah dan lingkungan pertemanan juga mempunyai peran untuk menciptakan ruang yang aman bagi anak dan remaja dalam menyampaikan kesulitan yang mereka alami. Pemerintah akan terus memperluas skrining serta memperkuat tindak lanjut terhadap masyarakat yang teridentifikasi membutuhkan bantuan. Dengan deteksi dan intervensi lebih awal, risiko gangguan kesehatan jiwa berkembang menjadi kondisi yang lebih berat diharapkan dapat ditekan.